Friday, November 5, 2021

Tampaksiring Gianyar Cerita Lontar Usana Bali

 Tampak Siring'


Begitulah..., agar tidak terlacak pelariannya, beberapa kali Raja Mayadanawa berupaya memperdaya Dewa Indra. Mayadanawa adalah seorang raja sakti dan memiliki ilmu menghilang dan dapat merubah wujud dirinya menjadi wujud lain. Dari kisah ‘upaya-upaya’ penyamaran inilah melahirkan nama-nama daerah (desa) yang dipakai hingga kini, misalnya: di suatu daerah Mayadanawa bersembunyi di pucuk pohon kelapa, menyamar menjadi ‘busung’ (janur), kini daerah tersebut bernama Desa Belusung. Tempat terbakarnya kereta Dewa Indra disebut Titiapi, sekarang Tatiapi. Tempat Mayadanawa menyamar menjadi batu besar sekarang disebut Desa Sebatu. Menjadi burung besar ‘ manuk raya’, akhirnya menjadi Desa Manukaya, dll. Saya teringat ceritera ‘Niyang’, diceriterakan ketika Mayadanawa berlari dengan memiringkan telapak kakinya (satu sisi telapak kaki) disebut Desa Tampaksiring. Ceritera-ceritera (lisan) ini rupanya bersumber dari ‘pustaka’ (lontar) Usana Bali. 


Pura Tirta Empul, juga tidak bisa dipisahkan dari rangkaian ‘legenda’ ini. Selanjutnya dikisahkan, Mayadanawa menyelinap ke tempat pasukan Dewa Indra dan menuangkan racun pada sumber air mereka. Pasukan ‘khayangan’ akhirnya keracunan. Dewa Indra tahu hal ini, sehingga beliau menciptakan mata air baru, mata air baru tersebut dikenal dengan Tirta Empul. Berkat Tirta Empul, semua pasukan yang keracunan bisa pulih kembali. 


Dari Tirta Empullah, para ahli menguak ‘peradaban’ Tampak Siring. Sumber mengenai keberadaan Tirtha Empul disebutkan oleh prasasti Manukaya (abad ke-10) yang dikeluarkan oleh Raja Bali bernama Candrabhayasinghawarmmadewa, bertahun 882 Saka (960 Masehi). Dalam prasasti itu dijelaskan mengenai perbaikan kolam atau mata air di Tirtha Empul yang rusak akibat banjir setiap tahun.


Nah….begitulah ‘sejarah’ singkat Tampak Siring. Ahai…, tiba-tiba saja Tampaksiring hari ini jadi menginspirasi. 


Dalam memori saya, pertama kali mendengar dan mengunjungi daerah Tampak Siring ketika masih umur ‘bau kencur’, belum sekolah, sekitar tahun 70-an. Pada Umanis Galungan, kami ‘orang-orang kampung’ plesiran ke Tampak Siring (Tirta Empul). Berangkat ramai-ramai naik ‘truk tentara’ yang masih distarter dengan cara ‘dislenger’ (memasukkan besi ‘engkol’ pada lubang starter (mesin) depan. Sepertinya generasi sekarang hanya bisa melihatnya di museum transportasi kali ya, hehe.  


Sepanjang jalan (kira-kira) dari Desa Blusung sampai (Manukaya) Tampak Siring, kami teriak-teriak kegirangan melihat buah durian yang bergelantungan ‘nged’ pada pohonnya. Maklum saat itu di kampung kami tidak ada pohon durian. Juga terpesona dengan indahnya hiasan Penjor berjajar rapi di tepi jalan.


Hingga kini Tampak Siring tetap 'mashyur' dan begitu istimewa. Kenapa? Di daerah ini berdiri dengan megah salah satu istana kepresidenan. Indonesia tercatat memiliki tujuh istana kepresidenan yakni : Istana Negara di Jakarta, Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor di Bogor, Istana Cipanas di Cipanas, Istana Tampaksiring di Bali, Istana Gedung Agung di Yogyakarta, Gedung Negara di Papua (mohon dikoreksi bila ada yang salah).


Jadi….. kapan kita ‘meplesiran’ lagi ke Tampak Siring ?😃🙏


Penulis Facebook https://www.facebook.com/1202692865/posts/10224738746915027/


'


No comments:

Post a Comment